Di Indonesia
terdapat banyak suku dan bahasa daerah dari Sabang sampai Merauke. Bahasa
daerah sudah menjadi bahasa sehari-hari, salah satu contohnya adalah bahasa
jawa yang telah digunakaan penduduk jawa khususnya Jawa timur, Jawa tengah, dan
DIY Yogayakarta. Bagi penduduk Jawa, bahasa jawa sudah menjadi bagian
terpenting dalam hidup mereka untuk berkomunikasi. Tetapi Seiring berjalanya
waktu bahasa daerah khususnya bahasa jawa mulai jarang digunakan oleh penduduk
jawa sendiri dan hanya segelintir orang yang berminat untuk mempelajarinya. Maka dari
itu bahasa jawa mulai langkah dan mahal nilainya.
Pada masa
sekarang penduduk jawa banyak yang menggunakan bahasa asing dan menganggap
bahasa jawa adalah bahasa kuno. Penulis merasakan hal tersebut adalah benar
karena adanya beberapa faktor. Faktor tersebut adalah banyaknya para imigran
luar pulau jawa bahkan luar negeri yang menetap di pulau jawa dan tidak
memungkinkan berkomunikasi menggunakan bahasa jawa. Faktor lain adalah pemerintah
berusaha menggalakkan bahasa inggris di sekolah-sekolah, seperti yang kita tahu
pelajaran bahasa inggris lebih lama dipelajari, dari SD bahkan dari TK sampai
jenjang SMA daripada bahasa daerah(jawa), ini membuktikan bahwa era globalisasi
telah menimbulkan perubahan pada semua aspek kehidupan dan teknologi, untuk
membuka pintu industri dan teknologi yang umumnya dari negara barat. Haruslah
mempunyai kemampuan berbahasa inggris sebagai bahasa internasional.
Pemerintah seharusnya menyikapi mulai hilangnya bahasa
daerah dengan serius, karena melupakan bahasa daerah sama halnya menghilangkan
kebudayaan. Pemerintah baru sadar dan mau bertindak jika sebuah kebudayaan
daerah sudah hilang atau diambil negara lain. Seperti kebudayaan Reog Ponorogo
dan lagu-lagu daerah yang diakui negara tetangga.
Tidak banyak
orang yang mempertahankan bahasa jawa. Bagi mereka yang mengetahui berharganya
nilai kebudayaan akan melestarikan bahasa jawa dengan membuka sekolah
kerawitan, dalang, dan kursus tari atau MC bahasa jawa untuk generasi muda.
Untuk membuka
sekolah bahasa jawa, perlu adanya guru bahasa jawa. Maka diharapkan lebih
banyak Universitas yang mau membuka jurusan kesenian dan bahasa daerah. Seperti
yang dilakukan oleh UNS (Universitas sebelas maret, Solo) telah meluncurkan
program study pendidikan bahasa jawa fakultas keguruan dan ilmu pendidikan
(FKIP) dan jurusan tersebut ditawarkan dalam SNMPTN tahun ini (Anita
widyaning putri).
By: Vida
Malang, 23 April 2014
.jpg)